kop atas Untitled Document MARHABAN YA RAMADHAN  Keluarga Besar Otorita Batam Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1431 H, Mohon Maaf Lahir Dan Bathin
Senin, 06 September 2010
Untitled Document
HomeCariPeta Situs Kontak Kami Buku Tamu Web Link •                         Webmail
Untitled Document

Cari
Masukkan Kata Kunci :

Sekretariat SePP
Gedung BIDA ANNEX II Lantai 4, Pusat PDSI, Batam Center
Ph. 0778-462047 Ext 1517
Link
 
Anda Pengunjung ke :
000001780551
 
.:: BERITA ::.
Impor Gula FTZ BBK Tergantung Kondisi Nasional
Sumber : Humas OB / BP Batam
Tanggal Update / Pengiriman : 20-05-2010
Isi berita :

Batam, 19/5 (BP Batam) - Impor gula ke Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Bintan dan Karimun tergantung kondisi gula nasional, kata anggota Badan Pengusahaan Batam I Wayan Subawa.



"Impor gula dilakukan kalau kondisi gula nasional sedang menurun," kata Wayan di Batam, Rabu.

Namun, jika kondisi gula nasional baik, maka tidak akan ada kebijakan impor gula, guna melindungi petani dan produsen gula nasional.

Impor gula untuk FTZ Batam, kata dia, terakhir dilakukan April 2010. Gula sebanyak 8.800 ton masuk dari luar negeri.

"Sekarang sudah habis," kata dia.

Untuk sementara, impor gula tidak akan dilakukan karena kondisi gula nasional sedang baik.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Melvin Korompis, memperkirakan pencapaian target swasembada gula dengan produksi 5,7 juta ton pada 2014 akan membutuhkan dana investasi sebesar 2,5 miliar dolar AS untuk membangun 15 pabrik baru.

"Bukan pekerjaan yang mudah untuk mencapai 5,7 juta ton pada 2014. Setidaknya butuh 15 pabrik. Harus dengan kerja yang sangat keras, dalam waktu tiga tahun untuk tambahan produksi 2 juta ton. Setidaknya butuh 2,5 miliar dolar AS," kata dia.

Melvin mengatakan, untuk 15 pabrik baru setidaknya dibutuhkan lahan seluas 300ribu hektare (masing-masing 20ribu hektare).

"Anggota kami ada yang cari lahan sendiri-sendiri atau dengan bantuan Agri. Kita lihat saja mana yang berhasil lebih dulu," tuturnya.

Dengan tercapainya swasembada gula, pemerintah mengharapkan impor gula tidak lagi diperlukan. Melvin menilai impor gula tidak mudah dihentikan, apalagi untuk gula mentah/raw sugar yang belum diproduksi di Indonesia. (Antara/Yhp).***
 
Untitled Document
Untitled Document